08 April 2010

My Story dan 6 Konsep Pesantren Bisnis Internet

Update : Artikel ini adalah pemenang ke-2 kontes "Pesantren Bisnis Internet "yang diselenggarakan oleh blogismail.com
Tahun 1995. Baru 1 tahun saya menginjakkan kaki di pesantren ini setelah tahun 1994 mulai nyantri, namun bayang-bayang kengerian dengan apa yang akan saya hadapi 2 tahun mendatang sudah saya rasakan. 2 tahun yang akan datang adalah kelas terberat di pesantren ini. Banyak rekan-rekanku santri yang harus tertunda untuk menjalani atau bahkan gagal sama sekali. Banyak juga yang karena kengeriannya sampai bertingkah laku yang aneh-aneh dan nyleneh. Ada yang rambutnya pada rontok, ada yang sering menyendiri, ada juga yang bertingkah suka makan banyak melebihi porsi hanya untuk meringankan beban pikiran. Kelas itu adalah kelas III yang fokus pelajarannya adalah kitab Alfiyah Ibnu Malik. Kitab yang membahas ilmu tata bahasa Arab secara lengkap dan detail. Terdiri dari 1002 bait dan terbagi menjadi 80 bab.
Dengan tempo pengajaran hanya 10 bulan dan syarat naik kelasnya harus hafal dahulu minimal 500 bait, kelas ini menjadi kelas yang paling ditakuti para santri termasuk saya.

Namun saya tidak ingin ketakutan itu terus menjadi hantu. Saya tetap harus datang dikelas itu dengan berani. Masih ada 2 tahun sebelum waktu itu tiba. Ini adalah tantangan dan saya harus memenangkannya.
Mungkin ini hanya sebuah mimpi. Saya bilang pada diri sendiri…ya benar ini adalah mimpi. Dan saya akan mewujudkannya.

Saya memulainya dengan menentukan target-target. Dari yang jangka panjang atau target besar sampai target jangka pendek atau target kecil.
Target besar saya waktu itu ada 2 :

  1. Sebelum saya menginjakkan kaki dikelas III saya harus hafal semua bait Alfiyah Ibnu Malik yang jumlahnya ada 1002.
  2. Saya harus jadi juara lomba tingkat Alfiyah Ibnu Malik.
Adapun target kecil saya banyak namun yang inti adalah saya harus menghafal 3 bait tiap hari secara istiqomah. Tidak boleh bolong. Kalau bolong berarti hutang dan harus ditebus dengan menghafal 6 bait. Begitu seterusnya…

Kenyataan yang ada ketika saya menjalankan apa yang saya rencanakan beratnya bukan main. Bukan pada sulitnya bait yang dihafal tapi beratnya untuk istiqomah. Cuma 3 bait .. . sedikit memang, tapi karena harus terus menerus dalam waktu lama maka rasanya jadi sangat berat.

Demi tercapainya impian saya, saya pun harus mengorbankan sebagian kebahagiaan saya. Saya harus merelakan liburan semester saya berlalu begitu saja sementara rekan-rekanku berkumpul bersama keluarga.

Ketika bulan Sya’ban tiba dimana luapan kegembiraan bergema di seantero pesantren karena liburan panjang sudah didepan mata, saya hanya tersenyum getir menyaksikan rekan-rekan bercengkerama dan tertawa-tawa menyambut datangnya hari libur. Hati kecil saya berteriak TIDAK!!! KAMU TIDAK BAHAGIA. IMPIANMU BARU SEUJUNG KUKU YANG KAMU WUJUDKAN. Yah… mau apalagi. Itu sudah konsekwensi yang harus saya jalani.
Walhasil saya kembali menahan diri untuk tetap tinggal di asrama sementara 3000 santri pulang ke rumah masing-masing dan hanya menyisakan orang-orang yang bermimpi seperti saya.
Sunyi, sepi, menyelimuti area pesantren. Tidak ada canda tawa, tidak ada gemuruh senandung syair-syair agamis. Yang ada hanya suara adzan dan jamaah ketika tiba waktu sholat.

Yang paling berat ketika Romadhon usai. Gema takbir berkumandang dimana-mana, sementara saya tetap bertahan di asrama. Perasaan ini sakit membayangkan ayah ibu bersedih karena tiada kehadiran saya di sampingnya dihari bahagia. Saya hanya bisa merenung “ Ya Allah bukan maksud saya mengurangi kebahagiaan kedua orangtua Ya Allah, saya hanya ingin mengejar impian saya”

Masih banyak lagi cobaan dan rintangan yang saya hadapi yang tidak bisa saya tulis di sini. Namun paling banyak adalah cobaan perasaan.

Alhamdulillah… Setelah hampir 2 tahun saya melewati suka dan duka, 1002 bait Alfiyah Ibnu Malik berhasil saya hafalkan secara tuntas. Saya sangat bersyukur atas semua itu. Saya tinggal memandang rekan-rekanku yang gelisah menantikan saat-saat uji hafalan untuk naik kelas.
Dan benar… dari sekitar 550 santri yang mengikuti uji hafalan, kurang lebih 300 diantaranya tidak berhasil dan out. Selebihnya masuk dengan 2 macam keadaan. Ada yang terseok-seok dan sedikit sekali yang tanpa hambatan, satu diantaranya adalah saya. Pengorbanan yang kulakukan terbayar sudah walau belum 100%.

Tahun 1997. Saya benar-benar naik kelas III Alfiyah Ibnu Malik. Keberhasilan saya dalam uji hafalan dan masuk kelas ini hampir bisa dikatakan tanpa hambatan berarti karena saya telah mempersiapkannya selama 2 tahun. Selama 2 tahun pula saya menahan diri untuk tidak pulang. Jangankan pulang pergi kepasar yang jaraknya hanya 300 meter pun tidak. Seluruh waktu dan pikiran saya seolah hanya tercurah untuk Alfiyah. Dan di kelas ini saya masih tetap menahan diri untuk tidak pulang. Belum saatnya… batinku. Ada tugas yang harus dijalani dan membutuhkan keistiqomahan yang tinggi. Dari menghafal bait yang lupa, menghafal penjelasan bait minimal 5 bait perhari, menulisnya dalam buku kemudian menelaahnya sampai paham. Belum lagi pelajaran rutin lain yaitu kitab Minhaajul qowim.

Dikelas ini saya kembali membuat target pribadi yaitu saya harus jadi juara dalam musabaqoh tingkat Alfiyah Ibnu Malik akhir tahun. Tak peduli juara 1, 2 atau 3 pokoknya juara. Target inilah yang melecut saya untuk selalu mentikror (mengulang-ulang hafalan) hingga benar-benar diluar kepala.

Akhir tahun…dimana seleksi peserta musabaqoh dilakukan, dari 250 santri saya berhasil masuk 25 besar. Seleksi berikutnya saya masuk 10 besar peserta yang nantinya akan dilombakan dihadapan santri keseluruhan.
Saat-saat menegangkan ketika perlombaan berlangsung. Pertanyaan acak serta uji hafalan tak berurutan membuat para peserta musabaqoh kalang kabut mencari jawaban. Belum lagi sorak sorai para penonton membuat keringat dingin makin bercucuran dan menghilangkan konsentrasi. Maju dengan nomor undian 6 saya berhasil menyelesaikan 6 dari 7 pertanyaan.
Ketika tiba waktu pengumuman sang juara, saya adalah satu-satunya orang yang paling bersyukur karena nilaiku adalah yang terbanyak diantara 10 peserta dan berhasil menjadi JUARA I Musabaqoh Alfiyah Ibnu Malik.
Rasa syukurku tidak terkirakan. Sekali lagi saya berhasil membuktikan kekuatan sebuah impian

Tahun 2010. 12 tahun telah berlalu namun kisah itu terasa masih baru kemarin saya alami. Kini saya didepan komputer. Berhadapan dengan dunia lain yang baru saya kenal tahun 2008 pertengahan. Dunia yang sama sekali tidak tersentuh di pesantren. Namun ini kenyataan. Dunia yang telah banyak merubah peradaban manusia. Dunia yang memiliki akses hampir tanpa batas. Ialah INTERNET. Ada yang bilang dunia maya, ada yang mengatakan dunia online. Apapun istilahnya internet adalah media paling luar biasa abad ini. Lewat media ini orang bisa menjalankan apa saja dari hal-hal kecil sampai hal-hal besar. Dari yang baik sampai yang buruk. Dari yang bermanfaat sampai yang tidak berguna. Namanya juga dunia. Selalu berisi hal yang memiliki 2 sisi berlawanan.
Lewat media ini segala kemudahan akan bisa didapatkan. Informasi apapun bisa dicari mulai dari politik, sosial, budaya, ekonomi, bisnis, olah raga dan sebagainya.

Ketika mas Ismail meluncurkan kontes dengan tema “Pesantren Bisnis Internet” saya merasa tertarik untuk membuat sebuah review tema tersebut berdasarkan pengalaman pribadi.

Ada banyak hal yang berbeda antara pesantren dalam istilah yang umum digunakan dengan pesantren dalam tema kontes di atas.

Pesantren dalam istilah umum yaitu tempat orang menjadi santri dan kemudian dikhususkan untuk tempat orang-orang belajar agama secara serius.
Sedang pesantren dalam tema kontes diatas, menurut saya maksudnya adalah tempat orang-orang belajar bisnis online secara serius. Benar atau salah terserah yang bikin kontes…

Pesantren dalam istilah umum digunakan untuk membina generasi guna menjadi generasi yang selalu berpegang pada prinsip iman dan taqwa, generasi yang sholich dan berakhlaq mulia, generasi yang dipersiapkan untuk selalu menegakkan kebenaran, generasi yang selalu mengajak kebaikan mencegah kemunkaran

Sedang pesantren dalam kontes ini adalah tempat membina siapapun guna menjadi pebisnis-pebisnis internet yang handal. Menjadi pebisnis-pebisnis yang selalu berpegang pada prinsip mencari keuntungan sebanyak mungkin dan meminimalkan resiko kerugian serendah mungkin. Pebisnis yang bisa memaksimalkan kemampuan teknologi untuk meraih kemudahan dalam segala hal.

Persamaan konsep yang menjadi dasar kedua pesantren ini adalah :

  1. Sama-sama butuh kecerdikan.
  2. Tidak harus menonjol namun harus tetap ada. Salah dalam membaca keadaan bisa jadi bumerang bagi diri sendiri. Lihat kasus rekan-rekanku yang akhirnya harus out gara-gara hafalan kurang. Bukan karena mereka tidak mampu. Mereka hanya kurang cerdik membaca keadaan yang akan datang. Jika kita salah dalam membaca keadaan pasar online, sangat boleh jadi kita akan kehilangan banyak kesempatan yang berujung pada hilangnya keuntungan.
  3. Sama-sama butuh cinta.
  4. Banyak yang mengatakan bahwa menjalankan bisnis yang bermula dari hobby akan lebih mudah dari pada berbisnis sesuatu yang belum sekalipun diketahui. Cinta selalu menumbuhkan gairah dan gairah selalu memicu tindakan yang serius. Lantas bagaimana jika ketertarikan saya pada bisnis hanya berorientasi profit oriented. Asal bisa jadi uang bisnis internet apapun akan saya ikuti, soal suka atau tidak suka itu urusan belakangan? Mudah… tinggal berusaha menjadikan pekerjaan itu sebagai hobby maka cinta akan tumbuh dengan sendirinya. Seorang santri bisa saja melesat diantara yang lain hanya karena bermodalkan cinta. Kita bisa membaca biografi Almarhum KH Abdurrohman Wahid yang karena cintanya pada membaca buku dan kitab beliau dikaruniai kecerdasan yang jauh diatas rata-rata.
  5. Sama-sama butuh kesabaran.
  6. Menjadi mahir dalam ilmu agama adalah impian setiap santri. Mahir dalam membaca kitab kuning adalah impiannya juga. Namun untuk mencapai semua itu tidaklah semudah membayangkannya. Banyak proses yang harus dijalani yang kadang terasa sangat membosankan. Belum lagi hal-hal diluar proses belajar mengajar yang kadang datang mengganggu pikiran dan perasaan. Diperlukan kesabaran yang tinggi sebagaimana diperlukannya kesabaran dalam mencari kekayaan lewat internet. Nyaris tidak ada satu kesuksesanpun yang instant. Semua butuh proses dari belajar, uji coba, praktek secara langsung kemudian menunggu hasil yang diinginkan yang tidak ada siapapun bisa menjamin.
  7. Sama-sama butuh biaya.
  8. Ada harga yang harus dibayarkan untuk setiap kesuksesan baik santri maupun pebisnis online. Bagaimana seorang santri bisa belajar dipesantren jika tidak ada biaya untuk makan? Atau tidak memiliki buku dan kitab karena tak mampu membeli? Mungkinkah seseorang bisa menjalankan bisnisnya lewat internet jika komputer saja tidak ada. Atau akses internet tidak tersedia. Lewat warnet? Memang di warnet tidak bayar… warnet siapa? Belum lagi macam-macam biaya yang harus dikeluarkan ketika online. Membeli domain, sewa hosting, sewa autoresponder, membeli ebook-ebook bisnis, mengikuti sekolah online dengan biaya bulanan, verifikasi paypal, beli software ini, software itu, beli ini beli itu… ternyata tidak sedikit harga yang harus dibayarkan untuk sebuah kesuksesan.
  9. Sama-sama butuh guru.
  10. Sahabat ali pernah berkata anaa abdu man ‘allamanii harfan…. (saya adalah abdi orang yang telah mengajariku satu huruf…) guru adalah orang yang menjadi perantara ilmu yang diberikan Tuhan kepada hambanya. Entah siapapun dia. Merupakan sesuatu yang tidak mungkin seorang santri jadi pandai ilmu agama tanpa adanya seorang pengajar, tanpa adanya kyai, tanpa adanya kitab yang dikarang oleh para alim. Tanpa adanya buku-buku keagamaan yang dikarang oleh pengarangnya. Mereka semua adalah gurunya. Tanpa guru seseorang tidak mungkin dikatakan pebisnis online. Gurunya adalah orang yang menjadikan dia tahu tentang bisnis internet. entah orang itu berkonstribusi sedikit atau banyak. Entah itu lewat ebook, cd bisnis, software. Entah itu yang gratisan atau yang membayar asal orang tersebut membuat dia tahu bisnis internet orang itu adalah gurunya. Diakui ataupun tidak.
  11. Sama-sama butuh waktu panjang.
  12. Sekali lagi tidak ada yang instant dalam menggapai kesuksesan apapun. Tidak seperti membalikkan telapak tangan yang dalam hitungan detik selesai dan sukses. Semua butuh waktu yang tidak sebentar. Butuh waktu bertahun-tahun bagi santri untuk menjadi orang yang benar-benar menguasai ilmu agama. Butuh proses lama hanya untuk dapat membaca kitab kuning secara benar. Dipesantren tempat saya belajar butuh waktu minimal 3 tahun untuk menyelesaikan pembelajaran tata bahasa arab. Itu belum termasuk pelajaran lain seperti balaghoh dan mantiq, ilmu yang mempelajari tentang makna yang tersirat dari sebuah kalimat. Kalau pembaca melihat atau mendengar atau mengetahui ada seorang internet marketing handal coba tanyakan kepada dia berapa waktu yang dia butuhkan untuk menjadi pintar di bisnis online? Tanyakan pula apakah dia sudah merasa handal atau masih ada yang kurang? Saya yakin jawabannya kurang bahkan selalu kurang. Berarti mereka masih butuh waktu lebih lama lagi.
Saya membayangkan andai saja pesantren agama dikolaborasikan dengan pesantren bisnis menggunakan ke-7 konsep tersebut di atas disertai niat yang kuat dan impian yang tinggi, saya yakin akan melahirkan pebisnis-pebisnis online yang luar biasa yang selalu mengedepankan prinsip iman dan taqwa. Tidak hanya meraih keuntungan materi dan duniawi tapi juga keuntungan ukhrowi yaitu keuntungan hakiki yang akan tetap terbawa sampai mati.

Akhir kata. Saya mengucapkan terima kasih kehadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan karuniaNya kepada saya. Yang telah memberikan saya kekuatan untuk mewujudkan mimpi 12 tahun silam.
Terima kasih untuk pesantrenku tercinta API PonPes Tegalrejo Magelang.  Karenamu saya jadi tahu apa-apa yang sebelumnya saya belum tahu.
Terima kasih untuk mas ismail yang telah membuat saya terinspirasi untuk menuliskan artikel ini.

14 comments:

Udin Hamd said...

Paaanjaaaang dan laaaaama membacanya,..

fatchur said...

ya iya lah ... ngetiknya saja nyampe 4 lembar ukuran F4.
besok kalau hajatnya sudah selesai, saya potong-potong deh biar jadi banyak.

ismail said...

hehehe....maturnuwun mas atas partisipasinya

fatchur said...

sami-sami mas. monggo dilanjut...

T. Wahyudi said...

panjang yah? he...

setyo said...

wah jadi curcol (curhat colongan) nih,tapi ga papa mas, pengalaman adalah guru paling baik dan bisa menambah pengetahuan buat orang lain.

fatchur said...

curcol? wah malah baru tau...
betul juga pengalaman adalah guru terbaik.

Andrik Sugianto said...

Jalan2 ke tempat sahabat, ngikut baca artikel di sini.
salam kenal dan persahabatan selalu
Andrik Sugianto

oh ya artikel ini ikutan lomba ditempat mas ismail ya mas?

fatchur said...

salam kenal juga mas and terima kasih telah berkunjung.
betul mas. artikel ini ikutan kontesnya dia. lumayan buat pembelajaran.

Muchammad iqbal jalaluddin said...

oke juga tuuhh..,,..teruskan bung,,,ta nanti inspirasi nya,,,jazakumulloh..choron jaza..

Blogger Terpanas said...

sampean alumni tegalrejo magelang to ? semoga menang ya

Bung Eko said...

Hmmm, kisah yang benar-benar mnggugah, Bung. Betapadi dunia internet pun kita memerlukan beberapa pilar untuk lancar dan meraih kesuksesan. Btw, kabar kontesnya Bung Ismail gimana ya? :D

fatchur said...

@Blogger Terpanas
amin

@Bung Eko
betul mas

Ahmad Im-bisnis said...

Subhanallah..storynya panjang mas ya..sukses mas